Mushaf (3)
Oleh IBN GHIFARIE
Pascaledakan bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton di Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (18/7) lalu genderang perang pun ditabuh oleh pemerintah Indonesia terhadap segala bentuk aksi terorisme.
Dengan tegas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengutuk keras aksi terorisme “Saya bersumpah demi rakyat Indonesia, negara dan pemerintah akan melaksanakan tindakan tegas, tepat, dan benar terhadap pelaku pengeboman berikut otak dan penggeraknya,” tegasnya
Dalam jumpa presnya, Ia menjelaskan “Hari ini adalah titik hitam dalam sejarah kita…Pemboman dilakukan oleh kaum teroris. Aksi terorisme ini dilakukan oleh jaringan teroris meskipun belum tentu kelompok yang dikenal selama ini,” katanya.
Nama Noordin M Top pula dikaitkan menjadi dalang aksi teror bom itu, demikian dikatakan oleh Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Irjen Pol Ansyaad “Dari modus yang dilancarkan, ini jelas terkait dengan Noordin M Top,” paparnya kepada ANTARA.
Spirit Yang Terlupakan
Apapun alasanya menghancurkan tempat umum tertentu, hingga menghilangkan nyawa orang lain, tak termasuk dalam kategori perbuatan baik.
Di tengah-tengah keterpurukan bangsa, masih ada segelintir orang (kelompok) yang tega melakukan perbuatan senonoh atau menempuh jalan pintas dalam menyelesaikan persoalan. Budaya aksi bom bunuh diri pun menjadi jurus pamungkas guna menumpas semua golongan yang berbeda (pendapat, pemahaman dan keyakinan).
Apakah kita tidak lelah? Apakah kita tidak ada kepentingan dan kebutuhan lainya yang lebih urgen daripada aksi terror tak berarti itu? Apakah kita memang lebih gandrung terhadap budaya barbar daripada duduk rukun dan bicara (dialog) dari hati ke hati?
Harus kita katakana dengan tegas, tak ada ajaran agama mana pun yang membenarkan perbuatan keji tersebut.
Sangatlah wajar bila Sejumlah tokoh lintas agama menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa teror pemboman dalam acara bertajuk Doa Bersama Lintas Agama yang digelar di Mal Bellagio, Mega Kuningan, Jakarta Senin (20/7). Mereka menolak jika dikatakan Indonesia adalah pusat terorisme. Yang terjadi adalah sebaliknya, Indonesia adalah korban terorisme.
Kegiatan yang digagas oleh Presiden World Conference on Relation for Peace sekaligus wakil dari Islam Hasyim Muzadi, Mahabiksu Duta Wira dari perwakilan agama Budha, Anak Agung dari perwakilan agama Hindu, Romo Edi Purwanto dari Konferensi Waligereja Indonesia, serta Pendeta Petrus Octavianus dari Persatuan Gereja Indonesia.
Hasyim Muzadi menyatakan, agama bukanlah darah dan teror. Peristiwa pengeboman pada 17 Juli lalu, katanya terjadi karena kesalahan pemahaman ajaran agama yang terjadi pada segelintir orang. “Kesalahan pemahaman itu bercampur berbagai kepentingan yang dipaksakan,” paparnya.
Karena adanya penyalahgunaan agama itu, masih menerutnya, jangan membuat orang menafsirkan bahwa agama adalah penyebab terorisme.
Bagi Mahabiksu Duta Wira mengatakan kepiluannya atas peristiwa pengeboman yang kembali terjadi. Ia meminta pihak-pihak yang ingin menunjukan identitas dan aspirasinya untuk jangan menggunakan bom. “Tindakan itu merugikan karmanya sendiri, masyarakat, dan bangsa,” tegasnya.
Hal senada juga dilontarkan oleh Romo Edi Purwanto perwakilan Konferensi Waligereja Indonesia menganggap peristiwa pengeboman adalah tindakan kejahatan yang kejam. “Tidak ada dasar apapun yang membenarkan tindakan ini,” katanya. (Tempo, 20/7)
Maraknya aksi terorisme dan bunuh diri ini, perlu ditegaskan, perbuatan tak terpuji itu tidak terkait agama tertentu. Malahan bagi Zuhairi Misrawi, pernah menulis buku Islam Melawan Teroris (2004) mengatakan terorisme sebenarnya terkait realitas keumatan.
Agama buknalah penyebab segala bentuk petaka, tapi ketidaktepatan umat dalam memahami doktrin agama, tidak kontekstual, dan bernuansa kekerasan. Sebab itu, yang perlu mendapat perhatian saksama adalah kualitas pemahaman umat terhadap agama. Bom bunuh diri adalah perbuatan yang harus dihindari karena dilarang agama.
Salah satu ajaran pokok Islam adalah menyebarluaskan sekaligus menegaskan pentingnya perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Ini terlihat dalam sebuah hadis; inti Islam adalah menebar perdamaian dan menyantuni fakir-miskin kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal. (Kompas, 24/7)
Bila kita kuat memegang ajaran setiap keagamaan niscaya tak akan ada lagi upaya ‘mempercepat kematian’ oleh kelompok tertentu terhadap golongan yang berbeda sekalipun kuat memegang teguh tradisi leluhurnya. Seolah-oleh mereka tak masuk kategori Islam dan harus diislamkan. Inilah wajah muram Islam Indonesia.
Kunci Perdamaian
Sejatinya, kita harus belajar toleransi, dialog antaragama dari pertemuan singkat antara Raja Abdullah bin Abdul Aziz dari Arab Saudi dan Paus Benediktus XVI di Vatikan, November 2007. Kedua tokoh agama itu percaya bahwa dialog adalah amat penting, dan melalui dialog akan lahir sebuah perubahan.
Pasalnya, dialog antar agama merupakan gerbang menuju kehidupan bermasyarakat yang adil, sejahtera dan harmonis. Sesuai dengan cita-cita luhur para pejuang yang memerdekakan kepulauan nusantara dari pelbagai rong-rongan penjajah. Kendati dialog antar iman tak sebatas bertujuan untuk hidup bersama secara damai dengan membiarkan pemeluk agama lain ‘ada’ (ko-eksistensi), melainkan juga berpartisipasi secara aktif meng-’ada’-kan pemeluk lain itu (pro-eksistensi). (Hans Kung dan Karl Kuschel: 1999).
Dengan demikian, dialog antaragama merupakan suatu pelayanan bagi kemanusiaan yang penting, demi tercipta perdamaian dan kemajuan semua pihak.
Konteks Jawa Barat, khususnya Kota Bandung–dipenghujung 2007 ketidakharmonisan antariman itu, menggugah seluruh pemimpin enam agama (Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu dan Khonghucu) dan tujuh belas pemuka aliran keagamaan untuk berembuk sekaligus mendeklarasikan Sancang.
Mari kita menelaah sekaligus mengamalkan pesan suci Deklarasi Sancang yang terangkum dalam butir-butir; Pertama, Kami umat beragama Kota Bandung adalah bagian dari Bangsa Indonesia yang senantiasa menjungjung tinggi kesatuan dan persatuan. Kedua, Kami umat beragama Kota Bandung menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Ketiga, Kami umat beragama Kota Bandung selalu berjuang untuk tegaknya hokum dalam mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan kerukunan hidup demi mencapai kebahagiaan bersama. Keempat, Kami umat beragama Kota Bandung selalu mengembangkan sikap teleransi, tenggang rasa dan saling menghormati. Kemila, Kami umat beragama Kota Bandung selalu berkerjasama untuk berperan dalam mengatasi masalah-masalah social dan lingkungan.
Perdamaian erat kaitannya dengan perilaku antikekerasan. Kiranya, kita perlu berguru antikekerasan pada Badshah Khan (1890-20 Januari 1988), pejuang risalah muslim antikekerasan dari Perbatasan Barat Laut. Pasalnya, perlawanan antikekerasan merupakan satu-satunya cara efektif melawan kezaliman.
“Hanya dengan antikekrasan, dunia masa kini bisa bertahan hidup menghadapi produksi masal senjata-senjata nuklir. Sekarang ini dunia lebih mumbutuhkan pesan cinta kasih dan perdamaian Gandhi daripada waktu-waktu sebelumnya. Andai saja dunia sunguh-sungguh tidak ingin menyapu habis peradaban dan kemanusiaannya sendiri dari muka bumi ini,” ungkapnya. (Eknath Easwaran, 2009)
Inilah peranan penting para pemuka agama dalam membumi hanguskan aksi terorisme sekaligus membangun peradaban dialog antaragama. Terwujudnya masyarakat yang adil, toleran, ramah, rukun, sejahtera, makmur menjadi cita-cita Bandung Agamis. Semoga.
IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama
Tulisan ini dimuat di Wacana Bandung Ekspres, Rabu 29 Juli 2009
Mushaf (2)
Oleh IBN GHIFARIE
Memasuki bulan rajab, masyarakat Islam (muslim) Sunda acap kali menggelar tradisi rajaban. Bentuknya sangat beragam. Ada yang berziarah; ke makam wali, kuburan orang tua, Syekh dan ulama penyebar Islam di suatu daerah; kumpul bersama di mesjid, mushola, rumah sebagai tanda bersyukur; zikir secara bersama di mesjid, pondok Pesantren; shaum selama satu minggu.
Betapa tidak, di daerah Karangtawang Kuningan kehadiran Isra Miraj (27 Rajab) merupakan momentum berkumpul bersama di masjid Nurul Islam. Juga Cirebon, mereka melakukan upacara dan ziarah ke makam Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan di Plangon. Galibnya, kegiatan itu dihadiri oleh para kerabat dari keturunan –kedua Pangeran tersebut.
Masih di Kota Udang, jamaah Tareqat Syahadatain setiap bulan Rajab selalu mengadakan acara zikir bersama di Masjid Asy-Syahadatain Desa Panguragan, Kecamatan Panguragan, Cirebon dan di Pondok Bunten Pesantren bisanya diadakan pengajian. Kitab Qissotulmi’roj pun menjadi bacaan Kyai-kyai muda secara bergantian. Penghujung malam penghataman kitab, akan ada banyak Ambeng (hidangan yang disajikan diatas nampan berukuran besar berisikan nasi lengkap dengan lauk pauknya) yang dihidangkan bagi para peserta pengajian.
Adakah pelajar yang bisa kita petik dengan adanya perayaan Isra Miraj yang jatuh pada tanggal 20 Juli 2009 dapat memberikan spirit kebenaran, keadilan, kemerdekaan sekaligus membuka ruang untuk tumbuh dan berkembangnya ajaran karuhun di Tatara Pasundan ini
Semangat Istiqomah
Salah satu pengalaman berharga dari Isra Miraj ini adalah keistiqomahan (taat, tunduk, patuh, teguh pendirian, memegang prinsip, aturan, pandangan hidup) Muhammad dalam menyebarluaskan risalah Tuhan dari kejadian “sici semalam”.
Kacian, makian, hujatan, ejekan sekalipun memperolok-olok tak membuat pudar Rasul untuk menceritakan peristiwa maha dahsat itu kepada masyarakat sekitranya. Abu Bakar merupakan orang pertama menyakini, mempercayai kejadian luar biasa tersebut. Hingga mendapatkan gelar As-Shidiq (Orang yang dapat dipercaya).
Parahnya, perjalanan semalam (dari Mesjid Haram ke Mesjid Aqsa lalu ke Sidrat Al-Muntaha) itu terjadi pada tahun 621 M–kurang lebih setahun sebelum Hijran ke Madinah saat usia Sang Ummi 50 tahun (10 tahun wahyu pertama). Kala itu, putra Abdullah tengah mengalami duka cita besar akibat meninggalnya 2 orang yang melindungi secara social-politis dan psikologis. Yakni Abu Tholib (Pamannya) dan Siti Khodijah (Istrinya).
Perintah ini tertera dalam surat Al-Isra/17:1 “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda keagungan Kami”
Sejatinya, momentum Isra Mi’raj Nabi Muhammad merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Islam berbasis keimanan yang kukuh (istiqomah). Perintah shalat pun menjadi petanda peradaban Rasul untuk menegakkan keadilan, kemerdekaan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Bila kita kuat memegang amanat Isra Miraj niscaya tak akan ada lagi upaya ‘penertibak keyakinan’ oleh kelompok tertentu (agama import) terhadap golongan yang kuat memegang teguh tradisi leluhurnya (agama suku). Seolah-oleh mereka tak masuk kategori islam dan harus diislamkan. Inilah wajah muram islam indonesia.
Panceg Dina Galur
Keberanian dan teguh pendirian dalam kebenaran dan keadilan dalam khazanah kesundaan dikenal dengan sebutan panceg dina galur.
Menurut Ajip Rosidi, pandangan hidup Orang Sunda seperti tercermin dalam tradisi lisan dan sastera Sunda paling tidak ada lima, mari kita hilat hasil Penelitian, diantaranya; Pertama, Pandangan hidup tentang manusia sebagai pribadi. Kedua, Pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan masyarakat. Ketiga, Pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan alam. Keempat, Pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Kelima, Pandangan hidup tentang manusia dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah.
Untuk mempunyai tujuan hidup yang baik, harus punya guru yang akan menuntunnya ke jalan yang benar. Guru dihormati dalam masyarakat Sunda. Bahkan Tuhan Yang Maha Esa juga disebut Guru Hyang Tunggal. Lihat saja, naskah Siksa Kandang Karesian dikatakan orang dapat berguru kepada siapa saja. Dianjurkan agar bertanya kepada orang yang ahli dalam bidangnya. Teladani orang yang berkelakuan baik. Terimalah kritik dengan hati terbuka. Ambil manfaatnya dari teguran dan nasihat orang lain.
Terciptanya kehidupan sejahtera, hati tenang dan tenteram, mendapat kemuliaan, damai, merdeka dan mencapai kesempurnaan di akhirat adalah cita-cita Urang Sunda.
Beragam cara untuk mencapai kebahagian itu diantaranya, masih menurut Ajip Rosidi dengan memegang teguh kepada ajaran-ajaran karuhun, pesan orangtua dan warisan ajaran yang tercantum dalam cerita-cerita pantun, dan yang berbentuk naskah seperti Siksa Kandang Karesian. Ajaran-ajaran itu punya tiga fungsi: Pertama, Sebagai pedoman dalam menjalani hidup; Kedua, Sebagai kontrol sosial terhadap kehendak dan nafsu yang timbul pada diri seseorang dan Ketiga, Sebagai pembentuk suasana dalam masyarakat tempat seseorang lahir, tumbuh dan dibesarkan yang secara tak sadar meresap ke dalam diri semua anggota masyarakat. (Makalah Pelatihan Kepemimpinan Putra Sunda yang diadakan oleh Gema Jabar tanggal 21 Agustus 2006)
Dengan demikain, Isra Mi’raj harus menjadi ajang evaluasi sekaligus tetep mempertahankan ajaran karuhun sebagai khazanal lokal yang tak bisa diganggu gugat.
Kiranya, dua rumusan yang ditulis Jamaludin Wiartakusumah Dosen Desain Itenas dalam Mencermati Ajaran Karuhun, diantaranya; runtut raut sauyunan (hidup rukun bersama) harus modal awal untuk membangun hidup rukun, harmonis antaragama, antarsuku, antarpemahaman. Pun ungkapan satata sariksa (satu aturan bersama-sama memelihara) guna menciptakan kebersamaan hidup yang kian tak beraturan ini. Singkatnya, bukan ajaran karuhun yang harus dipermak, tetapi telaah lebih dalam yang harus dilakukan! (www.mangjamal.multiply.com)
Inilah pelajaran berharga dari Isra Miraj bagi pemegang ajaran karuhun di Parahyangan ini. Semoga menjadi tonggak keteladanan yang mesti diserap dalam kesadaran (kehidupan) umat Islam. Selamat Isra Miraj.
*IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-Agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama.
Tulisan ini dimuat di Wacana Bandung Ekspres, Rabu 15 Juli 2009