Suhuf (16)
Oleh Ibn Ghifarie
Hampir sepekan ini perseteruan komunitas blogger dengan Roy Suryo terkait statement yang diucapkannya soal pelaku deface situs Depkominfo, kian tak menentu arah yang dibicarakanya. Betapak tidak, niatan baik sekaligus ajakan dari blogging melalui Presiden Blogger Indonesia Enda Nasution malah tak diindahkan.
Niat para blogger menggelar dialog tersebut adalah baik. “Hanya ingin tahu maksud pernyataan blogger yang dituduh Roy berada di balik serangan ke beberapa situs internet di Indonesia,” ungkap Enda kepada detikINET, Selasa (1/4/2008).
Seharusnya, Roy yang bertanggung jawab terhadap pernyataannya. Namun justru para blogger yang jadi repot meluruskan masalah. “Kita yang dituduh, kita yang dirugikan dan ‘dicemarkan’ namanya, kita juga yang harus mengundang Roy Suryo dan minta penjelasan,” keluh Enda.
Blogger, hanya ingin memperjelas siapa blogger yang dimaksudkan Roy dan apakah Roy mempunyai bukti dan dasar sehingga bisa menuduh seperti itu. “Soalnya ini berkaitan dengan penyidikan polisi, kan ada prosedurnya, ini artinya Roy melangkahi fungsi penyidikan,” jelasnya.
Tak hanya Enda, Riyogarta pun ikut menyuarakan gugatanya melalui ‘Surat Terbuka: Ajakan Dialog Terbuka Dengan Sdr. Roy Suryo’ Saya yakin Sdr. Roy Suryo sebagai orang yang sudah diakui pakar dalam bidang Teknologi Informasi bisa meluangkan waktu dan tempat untuk menerima ajakan dialog terbuka ini.
‘Saya yakin Sdr. Roy Suryo tidak akan mengatakan “tidak tahu” mengenai adanya ajakan dialog terbuka ini. Ajakan dialog terbuka saya posting melalui blog dan insya Allah akan tersebar dengan baik melalui search engine maupun dengan bantuan dari teman-teman melalui blog, milis dan media lainnya. Dengan demikian, saya yang tidak tahu cara menghubungi Anda bisa berharap Anda bisa mendapatkan informasi ini dengan mudah dan cepat. Bukankah ini salah satu keahlian Anda? Mencari informasi mengenai diri Anda atau informasi lainnya di internet’.
Di tempat terpisah Roy menanggapi ajakan dialog itu, malah Emoh Dialog Maya. “Dengan sangat senang, yang disebut ‘Dialog Terbuka’ adalah diskusi secara nyata dan bertanggung jawab,” kata Roy Suryo dalam pesan singkatnya kepada okezone, Selasa (1/4/2008).Roy memastikan siap hadir dalam acara itu secara profesional seperti layaknya acara seminar. “Tolong mereka menyiapkan tempat umum yang ilmiah seperti kampus, diliput media, dan hadir secara nyata. Saya tidak melayani diskusi maya,” tegasnyaNah, bila tak ada ruang terbuka untuk berdialog antar kedua belah pihak tersebut.
Sejatinya kita ikut mengkampanyekan slogan Blogger Bukan Hecker oleh Tozie, salah satu pengurus Komunitas Blogger Garut. Menurutnya, hackers build things ; crackers break them. Blogger adalah orang yang menulis blog. Blog kependekan dari weblog adalah website yang masukannya ditata secara kronologis. Isi dari blog beragam sesuai dengan keinginan blogger pembuatnya. Belakangan kata blog menjadi kata kerja, to blog yang artinya mengelola isi blog. Seorang blogger tidak perlu mengerti tentang sistem operasi, jaringan dan keamanan komputer. Jadi nge-blog itu adalah positif, sangat-sangat positif.
Hacker pengertiannya positif, blogger juga. (Real) hacker tidak akan merusak suatu sistem, apalagi blogger. Kampanye lainya bias dilihat disini Dengan demikian, ngeblog petanda orang-orang yang mencoba mengikuti petuah beradab. Bukan biadab. Semoga. [Ibn Ghifarie]
Ayo Ngeblog, Ayo Ngoment Juga!!
Cag Rampes, Pojok Kumputer Ngeheng, 02/04/08;10.57 wib
Suhuf (15)
Oleh Ibn Ghifarie
Uiversitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung mengukuhkan Dua Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Adab. Yakni Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Ag dan Prof Achmad Sudja’I Selasa (1/04).
Upacara pengukuhan ini dimulai sekitar pukul 09.30 WIB di Auditorium dan langsung dipimpin oleh Rektor UIN SGD, Nanat Fatah Natsir melalui Rapat Sidang Senat terbuka. Menurutnya, UIN mengucapkan selamat atas pengukuhan Guru Besar ini. Tentunya, bertambah pula jumlah Profesor yang ada di kampus menjadi 27 orang. Kendati, hari sabtu berkurang satu karena telah pensiun, paparnya.
Selain itu Ia berpesan ‘Paling tidak bertambahny Guru Besar diharapkan bisa membawa perubahan kea rah yang lebih baik, terutama pada; Pertama, Tradisi nilai. Kedua, Pengembangan keilmuan dan Ketiga, bisa memberikan sosusi terhadap persoalan yang aktual, jelasnya. Prof Dr H Abdul Razak, M.Ag adalah Guru Besar dalam Sejarah Perkembangan Pemikiran dalam Islam (SPPI) Fakultas Ushuluddin.
Dalam pengukuhanya Ia membawakan pidato ‘Filsafat Ilmu Kalam’. Diungkapkanya, Ilmu Kalam adalah ilmu yang membahas aspek ketuhanan dan segala sesuatu yang berkenaanya secara rasional. Objek kajian teologi islam; permasalahan ketuhanan dan segala sesuatau yang berkaitanya. Metodologi Ilmu Kalam ini upaya memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah secara mendalam diikuti elaborasi dan fakta empirik, tegasnya.
Secara ilmiah teologi Islam dapat diklarifikasikan menjadi dua bagian, diantaranya; pertama, Teologi Islam Klasik Teoritik. Yakni satu disiplin ilmu yang hanya membahas secara teoritik sekitar aspek-aspek ketuhanan dan pelbagai kaitanya—telah dibicarakan oleh aliran teologi dalm Islam.
Kedua, Teologi Islam Kontemporer Praktik. Yaitu satu disiplin ilmu secara praktik membahas ayat-ayat Tuhan dan Sunnah Rasul-Nya yang nilai doktrinya mengadvokasi pelbagai ketimpangan social. Pada Teologi kontempoter ini dapat di bagi menjadi; Teologi Lingkungan, Teologi Pembebasan dan Teologi Sosial, jelasnya. Bila kita merunut keterlahiran Filsafat Islam tidak bias dipisahkan dari pengaruh Barat.
Dalam perkembanganya Teologi berpangkal dari; Pertama, sebagai Metodologi Teologi. Satu cara memahami doktrin Agama melalui pendekatan wahyu dan pemikiran rasionalnya. Kedua, menjadi Ilmu Teologi. Ilmu yang membahas masalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya. Ketiga, menjadi Teologi Aksiologi. Upaya memahami doktrin Agama secara mendalam untuk mengadvokasi pelbagai permasalahan solial, kilahnya. Saat ditanya wilayah kajian Teologi Ia menuturkan ‘Mencakup aspek tokoh teologi, karya-karya, gagasan, sejarah perkembangan, pengaruh timbal baik dan perbandingan”
Prof Dr Achmad Sudja’I Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora. Pada saat pidatonya Ia memberikan petuah bertajuk ‘Fungsi Bahasa Dalam Memahami Al-Qur’an Tentang Leadership’.
Menurutnya, Upaya memahami dan memaknai ayat dalam Al-Qur’an harus memalui pendekatan kebudayaan (Arab) dan wahyu sambil menyetir satu ayat Q. S 43: 3 ‘Kami (Allah) telah menjadikannya Al-Qur’an dengan berbahasa Arab agar kamu berfikir’
Leadership dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan Khalifah. Tentu setiap diri adalah pemimpin. Namun, baginya kategori pemimpin itu harus mencakup; Amanah, Keadilan, Ketaatan dan Musyawarah, paparnya.
Satu hal yang lebih penting lagi dalam satu kepemimpinan. Seorang kepala harus manjadikan; Pertama, kholifah untuk melaksanakan aturan Allah SWT, mengadakan pembaruan dan penerus (pewaris). Kedua, harus memiliki sifat dan syarat Amanah, Adil dan Ulul Amri. Ketiga, Menghamba dan melaksanakan ajaran Allah SWT. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Auditorium 01/04/08;12.47 wib