kitab (10)
Oleh Ibn Ghifarie
Tak seperti biasanya Jl. A.H. Nasution dipadati lautan manusia dan tumpukan gerobak makanan, tapi saat tiba hari pertama puasa di bulan Ramadhan 1428 H sejumlah civitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) SGD Bandung ngedadak ketiban pasar kaget (13/09).
Betapa tidak, semula perhelatan Gedung Rektorat sunyi sepi, terkecuali bila ada sekelompok mahasiswa yang sedang melakukan aksi unjuk rasa terhadap para petinggi kampus. Agaknya tempat tersebut mulai ramai.
Kini, `taman demokrasi` itu berubah menjadi `surga para pengais rizeki` mulai dari penjaja makanan, kolek, rokok, rujak, es campur, goyobod, gehu-bala-bala, sampai sederetan idangan menu buat iftar lainya.
Kehadiran ‘pasar tahunan’ ini sangat bermanfaat dan memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat sekira. Salah satu pedagang menjelaskan ‘Berjualan di sini (Gedung Rektorat-red) lebih mendapatkan penghasilan daripada berdagang di belakang (Ma’had Aly-red), paparnya.
Selain itu, tak perlu angkut barang-barang segala, tinggal disimpan disini saja, tambahnya.
Lain pedagang, lain pula pembeli. Asep mahasiswa Tarbiyah ikut nimbrung tentang kehadiran pasar makanan ini, ‘Bagus sekali dan kita tidak perlu cari makana buat buka jauh-jauh segala, tapi cukup kedepan saja. Mau makana apa ada, tegasnya.
‘Pokoknya bermanfaat sekali adanya para pedagang ini, terutama bagi saya yang tak pernah masak,’ ungkap salah satu mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 13/09/07;23.56 wib
Kitab (9)
Oleh Ibn Ghifarie
Memesuki malam hari pertama puasa di bulan Ramadhan 1428 H umat islam dianjurkan melaksanakan shalat tarawikh. Tak terkecuali sejumlah civitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) SGD Bandung ngedadak memadati mesjid Iqomah (13/09).
Betapa tidak, semula mesjid sunyi sepi, terkecuali bila ada sekelompok mahasiswa yang sedang melakukan Mabit (malam bina iman dan takwa-red) terhadap sang khalik. Agaknya tempat tersebut mulai ramai. Terlebih lagi saat proses belajar mengajar mushola itu, ramai dipadati pelbagai mahasiswa. Sesekali terlihat kumpulan kaum pelajar yang sedang melakukan mentoring, sekedar ngerumpi, nongkrong-nongkrong sambil liat pemandangan, belajar-mengajar.
Kini, `rumah Tuhan` dibanjiri lautan manusia berbusana muslim; muda-mudi, laki-laki-perempuan, tua-muda, kakek-nenek, bocah kecil sekalipun semuanya tumplek di sekretariat LDM (Lembaga Dakwah Mahasiswa) tersebut. Apalagi saat menjelang shalat tarawikh tiba, serambi pun tumpah ruah.
Kuatnya ajaran Islam tentang keutamaan shalat tarawih membuat civitas akademik dan masyarakat sekira ikut memeriahkan mesjid dengan pelbagai kegiatan.
Namun, dilain sisi kehadiran ibadah tahunan ini mesjid Iqomah fungsi dari tempat `diijabahnya doa` menjadi `surga para silang rasa`. Tentunya, menuai pelbagai tanggapan.
Salah satu mahasiswa ikut mengomentari `Ko bisa ya..waktu shalat tarawih tiba penuh banget, tapi saat dating shalat magrib dikit amat. Coba kira-kira ada fenomena apa tuh? tandasnya.
`Iya ya. Kenapa ya? Coba liat saja waktu sholat hari ini, mulai dari shalat Subuh, Dzuhur, Ashar, Magrib,atau Isya orang yang ikut berjama’ah masih bisa dihitung dengan jari, tapi coba liat saat tarawih tiba banyak banget ampe kebelakang segala, jawab kawanya. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 13/09;22.54 wib