Lintas Peristiwa Ghifarie


Suhuf (17)

Ditulis dalam Carita oleh ghifarie di/pada Juli 19, 2007
Alhamdulillah
Oleh Boelldzh

Alhamdulillah, kata itu pun tanpa disadari sempat terlontar juga dari bibirku sambil menatap kosong kepada hilir mudik temen-temenku yang sedang melengkapi persyaratan Ujian Komperhensif di antaranya; Transkip Nilai, Surat Lunas Pembayaran Regisrasi dari Al-Jamiah, Foto Copy Sertifikat Ta’aruf, Tanda Kelulusan Praktek Ibadah, Tilawah dan Propesi. Pasalnya, hari ini merupakan batas akhir penutupan pendaptarannya.

Setelah berjuang hampir sepekan dengan tanpa pamrih. Akhirnya perlengkapan tes itu selesai juga seraya tak henti-hentinya membacakan tahmid.

Seolah-olah tumpukan blangko sekaligus rekapan nilai menjadi teman akrab melepas kepenatan aktivitas keseharianku.

Tak ayal, sederetan ungkapan bernada miris dilontarkan oleh kawan-kawan dekatku. ‘Geuning ayeu namah geus jadi mahasiswa pemburu nilai nya. Atuh kamana idealismena. Anus sok digembor-gemborkan baheula teh,` cetusnya.

Semula tak ada jawaban dariku, selain anggukan kepala pertanda membenarkan ikhwal tersebut.

Alhasil, selesai sudah satu pekerjaan. Meskipun, harus sabar menunggu dan tetap berusaha sekaligus belajar mempersiapkan waktu tesnya (26/07).

Mudah-mudahan diberikan kekuatan dan kemampuan dalam menghadari Kopre tersebut. Tentunya, berdoa dan beribadah harus lebih ditingkatkan lagi. Bukan malah sebaliknya. Sombong karena dapat mengikuti ujian tersebut. Amien. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Fakultas Filsafat dan Teologi, 19/07;11.34 wib

Suhuf (16)

Ditulis dalam Sakola oleh ghifarie di/pada Juli 19, 2007
Yang Penting Pelayanan dan Seleranya Bos…!!
Oleh Ibn Ghifarie

`Aduh jang ayeuna mah icalan the geuning tiiseun pisan. Komo deui saprek aya kantin Kopma (Koperasi Mahasiswa-red), ungkap salah seorang pedagang Baso Tahu saat dimintai pendapat soal kehadiran kantin baru beberapa pekan.

`Pokona mah eta teh geus dipolitisir ku para pejabat. Sebab sahamna milih maranehna,` tambahnya.

Kehadiran Café Taria ala mahasiswa di sekira gedung Studen Center (SC) menuai protes pelbagai kalangan. Pasalnya, lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (Sintek) harus bersih dari para penjaja makanan

Walhasil, keberadaan pedagang yang baisa mangkal di depan Mesjid Iqomah pun harus rela di relokasi ke daerah Ma’had Aly (15/01)

Selang enam bulan di penghujung semester genap saat para pedagang asyik menata ruang sekaligus memperindah tempat menghidangkan makana dengan kondisi alakadarnya. Mereka dikejutkan dengan kehadiran kantin tersebut (19/07).

Tak ayal, pelbagai mahasiswa pun angkat bicara. Salah satunya, Ahmad aktivis UKM menuturkan ‘Bisa wae ari pajabat mah. `Baheula pedagang anu aya di dieu (sekitar Fakultas saintek-red) di pindahkeu heula. Geus kitu ayeun di ayakeun kantin,` cetusnya.

`Pan pikaseubeuleun. Cing atuh karunya ka warga anu letik. Lain maraneh namah pan geus ngenah hirupna ge,` jelasnya.

`Ada-ada saja. Kebijakan para penguasa itu. Mestinya mereka membantu ekonomi orang lemah. Bukan malah sebaliknya, kata aktivis pergerakan mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya.

`Ini tak boleh dibiarkan. Kalau perlu kita demo. Sepakat kan,` tambahnya.

`Bagi saya ini menindas kaum lemah dan tak mencerminkan sifat kaum pelajar, ungkap aktivis lainya

Coba bayangkan saja. Bila di undang untuk menghadiri seminar atau bedah buku para pejabat kampus tak pernah menghadirinya. `Ini waktu louncing kantin Rektor, Nanat Fatah Natsir beserta jajaranya ikut meresmikan. Kan ironis sekali,` tegasnya.

Menyinggung pudarnya langganan pedagang di daerah Takhosus ke Kopma tak membuat miris bagi para penjual. Karena pelayanan dan selera tak bias dibohongi.

‘Ya ga apa-apa biarkan saja. Yang penting seleranya Bos..!!, kata pedagang Mie Ayam.

`Ah teu nanaonlah. Da geus kajadian. Anu penting mah kumaha cara urang ngabageakun langgan. Eta wae anu kudu ku urang dijadikeun cara keur milikeun langgan,` tutur sang penjual Kupat.

Hal senada pula di lontakan oleh Ani, menjelaskan `Memang di sana rame menunya, sampai-sampai ada special nasi goreng lengkap dengan ati ampelanya. Ya cuminan itu pelayanannya sangat lambat, paparnya.

Selain itu, harganya sangat mahal. Tidak sama dengan pedagang di sini (Kompleks Dosen Asing-red), tuturnya.

Sejatinya, keberadaan Kantin mahasiswa dapat membantu penderitaan masyarakat kecil, bukan memperburuk kondisi pendapatan mereka. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Baso Tahu, 18/07;12.24 wib

Halaman Berikutnya »