Pelecehan Seksual
Inilah Kekerasan Terhadap Laki-Laki
published on 23 April 2007 | Berita Mahasiswa
A.H Nasution—Lagi, pencabulan terjadi terhadap bocah dibawah umur. Kali ini terjadi di Bandung. Konon, kota berpendidikan sekaligus pusat peradaban urang Jawa Barat. Lebih mengheranakn lagi, perlakuan tak terpuji itu dilakukan oleh perempuan terpelajar.
Bila dahulu perlakuan bejad itu kebanyakan dilakukan oleh kaum adam. Kini, malah sebaliknya. Seolah-olah ingin sejajar dengan laki-laki. Awal terbongkarnya kasus ini setelah FM (25), yang saat itu masih mahasiswi perguruan tinggi swasta ternama di Bandung, datang ke rumah orang tua korban dan meminta maaf karena telah mengajak JS (saat itu berusia 13 tahun) bercinta dan melakukan hubungan badan dengannya, hingga FM hamil.
Kakak dari wanita itu meminta pengertian keluarga korban dengan mengatakan walau sebejat apa pun adiknya dan selacur apa pun, harap diterima karena sudah hamil dan minta tanggung jawab. “Saya sangat shock (terpukul) belum sempat saya tanya alasan yang satu, sudah ditimpa oleh soal lain secara bertubi-tubi,” kata ibu korban, Ny. DT, S.H., (Pikiran Rakyat, 02/04).
Menyoal perbuatan tak baik itu, Reni Sendiawati. aktivis WSC (Women Studi Center) Bandung angkat bicara `Wah boleh juga ini, tapi ko bisa terjadi ya. Bukankah laki-laki yang sering mengawali perlakuan bejad itu, hingga melakukan pemaksaan terhadap korban,` ungkapnya.
`Inilah salah satu bentuk kekerasan terhadap laki-laki,` tambahnya.
Lain halnya dengan Jamhur, mahasiswa SPI (Sejarah Peradaban Islam) memaparkan `Wah ini mesti berlaku hukum qisos (balas-membalas-red). Sebab dia (perempuan-red) telah melecehkan kaum adam,`
`Nya teu nanaon bagi urang mah. Malahan atoh bisa kawin jeung mahasiswi. Ngeunah pan (Ya tidak apa-apa bagi saya. Bahkan bisa langsung nikah sama mahasiswi. Enak kan),` ungkap salah satu mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya.
Menyinggung adanya motiv pencemaran nama baik orang tua korban guna menggeser kedudukanya di intansi tertentu. Mengingat sang korban termasuk keluarga terpandang. `Bagi saya, lagi-lagi inilah bentuk nyata kekerasan terhadap kaum adam. Lepas dari persoalan politik sekalipun,` tegas Reni
`Yang jelas, kekerasan, pelecehan seksual bisa menimpa kepada siapa saja dan tak mengenal gender (jenis kelamin-red), ` jelasnya.
`Saya berharap persoalan ini mesti cepat diselesaikan dengan pihak berwajib. Bagi kami, mari kita sosialisasikan pendidikan seksual dan pentingnya pendidikan politik bagi siapa saja. Termasuk anak-anak dan perempuan supaya tak terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan, katanya.
`Ah itu kan lagu lama dalam menggeser lawan politik. Yang jelas, peranan keluarga khususnya ibu sangat penting dalam membangun keutuhan keluarga. Termasuk cara mendidik anak bagaimana bersikap, bertindak dan melakukan perbuatan apapun,` demikian ungkap salah satu aktivis pergerakan mahasiswa. [Ibn Ghifarie PusInfoKomp]