Kebangkitan Islam
Geliat Kebangkitan Islam Dari Kampus
published on 7 April 2007 | Berita Mahasiswa
A.H Nasution—Tak ada cara lain dalam mengembalikan citra Islam supaya tak tertinggal jauh dari peradaban barat, yakni dengan menguasai Ilmu pengetahuan yang bersumber pada Al-Quran-Hadis. Salah satunya melalui kampus,` demikian penuturan H.M Rafani Akhyar dalam acara Gelar Diskusi Publik bertajuk ` Membangun Kembali Peradaban Islam Nan Gemilang’ (04/04).
Menurutnya, Sangat besar sekali sumbangsih peradaban Islam bagi kebangkitan Eropa (sampai sekarang-red). Peradaban Islam Menyelamatkan mereka dari kegelapan, kebodohan, dan perbudakan di abad pertengahan. `Ini dikarenakan sifat keterbukaan ulama muslim terhadap kebudayaan lain. Terutama peradaban-peradaban Yunani, Romawi, Persia, India, Mesir kuno, dan lain sebagainya.’
`Melalui Andalusia dan Cordova, yang menjadi jalur penghubung antara Eropa dan Timur waktu itu. Peradaban Eropa dibawanya kepada cahaya dan Ilmu pengetahuan, hingga pada era Renaisans.` jelasnya.
Dengan begitu, Interaksi ini dapat memeberikan peran besar guna memperkaya ilmu pengetahuan dalam bidang ilmiah, sastra dan teknik, tambahnya.
Lagi, kecermelangan Islam melalui aspek filosofnya, para fuqoha dan para pemikir muslim, terutama pada empat abad pertama Hijriah, mampu menghadirkan kemajuan dan kebangkitan ilmu pengetahuan dan peradaban besar,’ ungkapnya.
Lain halnya dengan Ajid Tohir yang menyinggung permasalahan perpecahan politik masa lalu harus segera diperbaiki dengan melakukan pemberdayaan kemampuan dunia Islam secara bersama guna menjalin kerjasama di bidang politik, ekonomi, perdagangan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan.
Dalam pandanganya, Ada beberapa hal real yang mungkin dilakukan dalam membangun upaya hubungan diplomatik, sekalipun gambaran yang muncul secara akademik. Meski dalam merealisasikan praktek-praktek politik tidaklah mudah seperti membalik telapak tangan. `Paling tidak pikiran ini sekaligus berupaya untuk menjawab terhadap isu-isu kontemporer yang muncul sekarang ini. Terutama dari kelompok tertentu terus bersikeras, penegakan kembali dunia islam hanya bisa dilakukan dengan satu-satunya sistem yakni kembali kepada ke-khalifah-an,` ungkapnya
`Keadaan seperti ini sangat rumit bahkan kadang terkesan “utopis”. Apalagi dalam dunia Islam sendiri yang telah terbelah dua secara permanen baik secara ideologis maupun theologis, Sunny dan Syi’I, sepertinya merupakan kendala yang sulit dicarikan pemecahannya,’ kilahnya
Terlebih lagi, saat melihat persaingan global antara dunia Islam dengan barat (Amerika Serikat-red). Diperlukan berbagai strategi dan diplomasi yang kuat supaya membawa Islam pergi dari keterpurukan. `Sudah sewajarnya dunia Islam beralih posisi kepadanya.’
Menyinggung benturan peradaban, Rafani berasumsi ` Teori Huntington tak jauh beda dengan teori fukuyama. Kedua-duanya sama-sama mempromosingkan sekularisme, liberalisme, dan demokrasi barat, katanya.
Artinya, benturan peradaban Samuel Hutington dan teori Fukuyama mengasumsikan sejarah itu merupakan perwujudan manusia yang berkembang dalam berbagai lini kehidupan. Tentu saja, akan berhenti manakala sejarah berhenti. Akhirnya, peradaban barat pula berakhir.
Perhelatan akbar ini merupakan agenda tahunan HIMA (Himpunan Mahasiswa) SPI (Sejarah Peradaban Islam) KBM UIN SGD Bandung bekerja sama dengan LSPI (Lembaga Studi Politik Islam) Bandung.
Hadir pula Farid Wadjdi. SIP (Redaktur majalah Al-Waie; Kondisi Islam Saat Ini) sebagai nara sumber. Selain, Drs. Ajid Thohir, M.Ag (Dosen UIN SGD Bandung; Menuju Globalisasi Dunia Islam), Rafani Akhyar. MA (Sekum MUI Jawa Barat; Membangun Kembali Peradaban Islam) [Zarien, Ibn Ghifarie PusInfokomp]