Suhuf (2)
Oleh Ibn Ghifarie
`Leudz, naha bet ceurik sagala. Biasanage lamun nonton teh tara ceurik kitu. Paling-paling ge buru-buru nulis,` ungkap salah satu kawanku.
`Wah, pantesan we da ningali eta (liputan tenggelam kapal Velina yang menelan Suherman, kameramen Lativi-red). Mentang-mentang sapropesi nya,` tambahnya.
Tak ayal, lontaran kata-kata bernada keheranan itu, tentu saja menghentakan perasaanku. Pasalnya, aku sedang mengikuti perkembangan tenggelamnya kapal Levina yang menelan berpuluh penumpang tak berdosa. Termasuk, Suherman, kameramen Lativi meninggal dunia dan tiga orang yang hilang, yaitu satu juru kamera SCTV Muhammad Guntur dan dua anggota Laboratorium Forensik Mabes Polri, Lugeng Widodo dan Widiantorotiga (Liputan 6 petang, 25/02).
Semula tak ada jawaban dariku. Kecuali anggukan kepala sebagai pertanda membenarkan ikhwal kesedihan yang begitu mendalam atas terjadiya peristiwa naas tersebut. Walau dalam diriku bergulat seribu pertanyaan sekaligus menuntut jawaban segera. `Eh naha beut kudu ceurik sagala. Padahal mah pan urang jeung maranehna teh lain deungeun-deungeun acan, iwalti sadulur ti anak adam,` gumamku.
Meski aku bukan tukang kuli tinta sepropfesional Suherman dan M Guntur. Namun, paling tidak aku merasakan perjuangan sekaligus keluh kesah jurnalis saat magang dibeberapa media. Pasalnya, data bagi wartawan merupakan ruh dan pembaca menuntut karya bermutu.
Bila sejumlah Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) dan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) menakukan aksi doa bersama dan sholat saat meninggal Suherman. Berbeda denganku. Tak ada aksi solidaritas dan berdoa secara berjamaah. Selain menulis dan menulis saat musibah mengerikan itu terjadi. Hanya itulah yang bisa ku perbuat dan seraya berucap `Selamat jalan kawan. Semoga berada dalam lindungan Tuhan. Amien`. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 25/02; 18.56 wib
Suhuf (1)
Oleh Ibn Ghifarie
Sekali lagi, musibah kapal laut kembali terjadi. Kali ini, KM Levina I yang bertolak dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menuju Pangkalan Balam, Bangka Belitung, mengalami kebakaran sekitar pukul 05.30 WIB, Kamis (22/2) di wilayah Kepulauan Seribu.
Sebanyak 16 penumpang kapal jenis roro itu meninggal, salah satu di antaranya adalah seorang bayi. Sementara 211 orang dari total 307 penumpang kapal buatan Jepang 27 tahun lalu itu selamat. Ratusan penumpang yang berhasil dievakuasi ke Tanjung Priok itu terkena luka bakar.
Sedangkan korban selamat yang dievakuasi ke Pulau Kelapa berjumlah 63 orang, dan tujuh penumpang meninggal. ”Total penumpang selamat sebanyak 274 orang dan hilang 17 orang,” kata Direktur Pelayaran dan Perhubungan Laut Dephub, Bobby R Mamahit, kemarin. (Republika, 23/02).
Tak hanya berhenti sampai disana, peristiwa naas pun terjadi di tengah-tengah pencarian korban dan mengusut tuntas asal-muasan terjadinya kebakaran kapal tersebut. Lagi, kapal berusia 27 thn itu, kembali menelan korban. Kali ini, menimpa beberapa jurnalis yang sedang olah TKP. Salah satunya, Suherman (kameramen Lativi) dan M Guntur (kameramen SCTV). Hingga hari ini M Guntur belum ditemukan.
Inilah bentuk korban ke konyolan transportasi kita. Seakan-akan, bencana transportasi air di negeri Indonesia seperti susul-menyusul. Perkabungan yang satu belum usai muncul perkabungan yang lain. Kecelakaan seolah menjadi sahabat karib sekaligus siklus yang harus kita lalui pula.
Masih ingat dalam benak kita, di penghujung tahun 2006. Bagaimana kebakaran kapal terjadi di Batam saat bersandar ke tepi. Atau peristiwa memilukan sekaligus menyuluh hati kita saat kapal Tampolmas terbakar di tengah-tengah lautan lepas.
Maraknya, kecelakaan transportasi baik udara, darat, maupun laut secara beruntun membuat masyarakat khawatir. Kondisi itu sebagai buntut tidak mampunya pemerintah menyediakan sarana transportasi yang aman bagi rakyat. Dipertanyakan, mengapa audit komprehensif angkutan belum diselesaikan.
Demikian dikemukakan Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Bambang Susantono, kepada Pembaruan di Jakarta, Jumat (23/2), menanggapi terjadinya kecelakaan pesawat Adam Air di Juanda, Surabaya dan terbakarnya KM Levina I di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, Rabu (21/2) dan Kamis (22/2).
“Kecelakaan-kecelakaan yang terjadi hanyalah sebuah gejala, tetapi akar permasalahannya sama sekali belum ditemukan. Audit komprehensif moda angkutan darat, laut, dan udara, seharusnya sudah diselesaikan pemerintah. Mengapa sampai saat ini hasilnya belum juga keluar?” tanya Bambang.
Sudah tentu, pelbagai kecaman bernada menyudutkan dan menuntut Hatarajasa, Mentri Perhubungan untuk segera undur diri jabatannya. Pasalnya, Ia tak becus lagi mengurus transportasi. Seperti yang dikemukakan oleh Nusyirwan Soedjono, anggota Komisi V DPR dari Fraksi PDI-Perjuangan, meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengevaluasi kinerja Menteri Perhubungan Hatta Rajasa. Kecelakaan bertubi-tubi itu dinilai akibat tidak adanya langkah signifikan dari Menhub.
“Program yang disampaikan Menhub tidak ada realisasinya. Kami sudah kehabisan bicara, kecelakaan terus terjadi. Sebagai rasa tanggung jawab kepada masyarakat sebaiknya dia mundur,” kata Nusyirwan.
Dia juga mendesak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) segera menyelesaikan penyelidikan terkait dengan kecelakaan pesawat Adam Air di Bandara Juanda dan terbakarnya KM Levina I di perairan Kepulauan Seribu.
“Rekomendasi itu bisa digunakan bagi korban dan keluarganya untuk melayangkan gugatan hukum baik kepada pemilik armada, petugas, dan pejabat terkait. Mereka perlu dibawa ke pengadilan,” katanya. (Suara Pembaruan, 24/02)
Memang, tak adil rasanya bila kita menyerahkan segala urusan bencana transportasi sepenuhnya kepada Menhub semata. Terlebih lagi, bila tidak ada keterlibatan ektra serius dan hati-hati dari masyarakat saat menumpang kendaraan serta keterlibatan penuh dari pemangku kekuasaan. Hingga kejadiaan tak berkesudahan itu dapat diminilalisir dan tak begitu banyak menelan kobran yang tak berdosa. Uintuk itu, maka wajar bila masyarakat menginginkan pemimpin yang tanggap secara dini terhadap persoalan pelik tersebut.
Meski, selain perlu kepengurusan yang punya kecakapan mengatasi bencana transportasi, juga betapa mendesaknya konsep menegemen bencana untuk segera direalisasikan. Ini agar wong cilik dapat mendeteksi gejala-gejala bencana dan pertolongan pertama dalam kecelakaan supaya tak panik, hingga nyaris tak melakukan tindakan yang bersifat konyol.
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 25/02; 23.26 wib