Mushaf (19)
Komoditi Itu Bernama Jilbab
Oleh Ibn Ghifarie
Seiring waktu sepenggal asa. Lain waktu. Lain pula zaman. Bila tempo dulu pemakaian kerudung merupakakan perintah Tuhan yang mesti diikuti oleh setiap Muslimah.
Kini, mulai beralih dari perintah syar’i ke trend, seakan-akan jilbab tak berbanding rulus dengan kebebasan mengenakan atribut-tribut keagamaan di publik.
Busana muslim mulai akrab di sebagain masyarakat pelajar sekira tahun 2000-an. Namun, kuatnya pengaruh globalisasi dan maraknya pemakaian kudung di kalangan artis. Membuat kaum intelektuan melakukan hal yang sama.
Tak ayal lagi, rumah-rumah model pun bermunculan. Sudah tentu, membawa kebahagiaan sekaligus keuntungan yang tumpah ruah bagi kalangan pengusaha.
Dengan demikian, merebaknya model busana muslim dan rumah butik menjadi komoditi yang menggiurkan bagi pembisnis. Haruskan kewajiban menutup aurat diembel-embeli dengan mengikuti trend Artis? [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 25/12;23′26 wib
Mushaf (18)
Antara Tradisi, Hukum Tuhan Tipis Peredanya
Oleh Ibn Ghifarie
Jika memang Islam hadir untuk menghapus “kebodohan” umat manusia menuju jalan lurus yang selamat yang diridoi Allah SWT. Kenap umat islam tak lebih baik daripada non muslim. Mulai dari pendidikan, keterbelakangan ilmu pengetahuan (Iptek) sampai pada persoalan keIman dan takwan pun masih mengidam penyakit akut bernama ‘klaim kebenaran’.
Satu kelompok dengan golongan lain, beranggapan bahwa paham merekalah yang paling benar. Di luar batas perhimpuannya sering diangap sesat, hingga kafir. Benarkah sifat dan perbuatan lalim itu di perintahkan oleh Rasul? Tentu saja jawabanya tidak. Lantas apa yang meski kita perbuat, manakala islam berwajah ‘ganjil’ dalam menyikapi tradisi?
Pemahaman perbedaan pendapat pun harus berubah haluan menjadi laknat daripada rahmat. Lagi-lagi, ruang dialog tak pernaha akrab dalam keseharian kita. Kita hanya bisa menyelesaikan segala persoalan itu dengan meruju kepada hukum Tuhan. Tentunya, pelbagai dalih pun harus rela tuntuk atau sengaja di bakuakn dengan sumber tersebut.
Padahal, begitu tipis perbedaan antara hukum Tuhan dengan Adat. Namun, kedua-duanya mengajarkan kita supaya berbuat baik kepada dirinya, orang lain dan sekiranya. Jika tak bisa berprilaku arif, maka tinggalkanlah. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 21/12;23.56 wib