Nukilan (13)
Oleh Ibn Ghifarie
Tapi tampaknya kedewasaan belum sampai ke pangkuan seluruh civitas akademika UIN SGD Bandung, termasuk para pejabat di Gedung Rektorat. Polemik pemilihan Dekan Fakultas Psikologi pun tak kunjung selesai, misalnya. Alih-alih mekanisme PLH (Pelaksana Harian) Fakultas Psikologi ternyata masih mencampuri urusan “dalam negeri” di Pemilihan Dekan tersebut.
Hal ini ditunjukkan oleh peran Rektorat yang besar dalam “mengamini” terpilihnya Drs, Endin Nasruddin, M.PSi. Mesti memiliki keganjilan dalam gelarnya (bukan M.PSi, tapi M.Si). Padahal, semestinya hal ini dilakukan dengan sidang resmi oleh Senat Universitas. Sampai saat ini, eksistensi lembaga tertinggi di UIN seperti berada di ujung jalan, tertimpa tangga, dan belum bisa bangun lagi. Pasalnya, tangga yang menimpanya justru menindih makin kuat dan pelik.
Sudah begitu, dari penjaringan dan rekrutmen dosenya pun sendiri belum menunjukkan profesionalisme dan profosiolalisme dalam bekerja. Ditandai dengan ketidaksiapan sarana dan prasarana yang memadai serta ketidakjelasan mutasi dan rekrutmen guru. Seharusnya antara lembaga satu dengan yang lain haruslah bekerja secara profesional, sehingga tak terbentur konflik internal.
Pertanyaannya sekarang adalah, kapan kita bisa menjadi dewasa? Kapan kira-kira UIN bisa menyelesaikan sejumlah kemelut yang masih saja membayangi hingga kini? Kapan UIN bisa benar-benar mapan dalam menghadapi sejumlah perubahan, tanpa merugikan pihak lain?
Tak ayal lagi, Protes soal kenaikan SPP, dana praktikum tak jelas, pungutan Iqomah, Poliklinik dan pungli (pungutan liar) lainya berkedok buku, majalah saja belum kelar sampai sekarang. Belum lagi problem-problem kecil seperti pemberlakuan karcis parkir, perbaikan tempat kakus (WC), tumpukan sampah dimana-mana, relokasi pedagang. Tentunya, sederetan masalah-masalah kecil yang jika dibiarkan terus bakal sangat mengganggu.
Polemik di tubuh Psikologi mungkin bisa diselesaikan dengan perekrutan Balon (Bakan Calon) dan melibatkan mahasiswa. Tentu dengan prosedur yang transparan dan disosialisasikan sejelas-jelasnya. Tanpa sosialisasi, ada atau tiada Dekan, tak akan ada gunanya karena tak dikenal oleh mahasiswa.
Selebihnya, semua persoalan yang menghadang kampus ini haruslah disikapi dengan kedewasaan. Kedewasaan yang seperti apa? Yaitu yang bisa menunjukkan bahwa sebagai Universitas, UIN bisa mandiri tanpa harus “dibimbing” oleh segelintir orang atau sekelompok organisasi tertentu. Dengan harapan bisa menyelesaikan masalah, tanpa menimbulkan masalah baru. Semoga. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 27/09;19.52 wib
Nukilan (12)
Belajar Dari Presiden Gunung Merapi Kenapa Mesti Malu?
oleh Ibn Ghifarie
Di tengah-tengah krisis kepercayaan terhadap pemerintah terutama kepada Presiden RI SBY-JK (Susilo Bambang Yudoyono-M Yusuf Kali). Hal ini terbukti dengan maraknya pelbagai aksi unjuk rasa. Mereka menuntut SBY-JK untuk mundur dari kursi Presiden. Pasalnya, mereka tak bias membuat bangsa kita keluar dari pelbagai multi krisis dimensional.
Malahan para penguasa pasca Mega itu, acapkali menaikan sejumlah kebutuhan rakyat jelas, muli dari kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak), Telpon, Listrik, kebanjiran, gempa, kekeringan sampai kurang pasokan beras. Padahal, beberapa pekal lagi bulan Ramadhan tiba.
Mencermati persolan pelik dan akut ini, tak ada cara lain selain kita mesti banyak belajar dan berguru terhadap Mbah Marijan. Seperti yang ditulis oleh FX Rudi Gunawan dalam buku ‘Mbah Maridjan Sang Presiden Gunung Merapi’ (2006) dan ditulis ulang oleh Ahmad Wasito dalam HU Media Indonesia (4/09). Pasalnya, presiden gunung merapi ini memberikan penyadar terhadap kita betapa kesederhanaan, kejujuran, dan keadilan adalah barang berharga sekaligus sangat langka di negeri ini. Keserakahan, kedengkian, dan kesewenang-wenangan memang telah menjadi kewajaran. Orang saling pukul, saling tikam, saling bunuh. Penguasa menipu, memeras, menindas dan menganiaya rakyatnya. Korupsi merajalela. Rakyat sengsara. Dan orang jujur, sederhana dan adil menjadi sulit dicari.
Meskipun begitu, sosok Mbah Maridjan tetap saja sebagai manusia biasa layaknya. Ia makan, minum dan tidur. Bukan orang sakti maupun paranormal yang mengetahui dunia gaib. Apalagi, kejadian yang akan mendatang. Namun, satu hal yang membuatnya istimewa adalah sifat dan kepribadiannya. Sifat dan kepribadian yang tidak dijumpai pada sembarang orang.
Pendek kata, Maridjan adalah orang jujur. ”Jujur sak jujur-jurure wong,” kata Sawidjan, salah satu abdi dalem Mbah Maridjan. Dalam bahasa Indonesia berarti manusia paling jujur yang dimungkinkan. Maridjan memang dikenal sebagai sosok yang jujur lugu setia dan penuh tanggung jawab.
Sikapnya yang dipandang ‘kolot’, membuat ia tetap bertahan di Merapi saat gunung itu aktif’ Sebenarnya ini merupakan symbol kejujuran, bakti dan tanggung jawabnya sebagai juru kunci Merapi. Artinya, dengan cara bertahan, sambil melakukan ritual, Mbah Maridjan menjalankan laku prihatin dan berdoa, memohon keselamatan. Tidak saja bagi warga sekitar Merapi, tapi untuk seluruh warga Daerah Istimewa Yogyakarta.
Begitulah Maridjan, sikap dan perilakunya sering dianggap tidak sejalan dengan logika praksis orang sekolahan. Perkataannya yang syarat nilai simbolik menyimpan kearifan dan filosofi penuh makanan, dan terkadang mengejutkan.
Di balik sarung dan kopiah sederhananya tersimpan pusaka bangsa yang telah lama hilang, yaitu kejujuran, kepolosan dan keluguan. Dengan kearifan dan kesederhanaannya, Maridjan bak oase di tengah carut-marutnya bangsa yang dipenuhi orang-orang yang terbelenggu oleh pengejaran kepuasan dan nafsu. Oleh ego dan keserakahan.
Dengan demikian, kita mesti mengambil hikmah dari apa yang telah dikeluarkan oleh letupan gunung merapi. Terlebih lagi, sosok Mbah Marijan yang sering dianggap ‘udih’. Nyatnya menyimpan sejuta sikap dan sifat arif.
Lantas, mengapa kita mesti malu belajar dari presiden Merapi tersebut. Jika, Ia mengajarkan sekaligus memberi contoh terhadap para pejabat untuk tetap memegang teguh amanah yang diembannya. Maka kenapa harus malu bercermin padanya? [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kering, 06.09;14.08 wib